Ekowisata Mangrove Desa Petaling

  • Aug 01, 2024
  • wisata

Ekowisata Mangrove Desa Petaling

Jelajahi keindahan ekowisata hutan mangrove berusia ratusan tahun di Desa Petaling, Belitung. Nikmati wisata susur sungai, wisata edukasi, dan keindahan alam yang maha asri sembari menikmati flora dan fauna dan turut melestarikan hutan mangrove.

Hutan Mangrove Desa PetalingHutan mangrove, atau dikenal juga sebagai hutan bakau, merupakan ekosistem yang tumbuh subur di daerah pesisir dengan air payau yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Keindahan dan keunikan hutan mangrove tidak hanya terletak pada pemandangannya yang memukau, tetapi juga pada peran pentingnya dalam melindungi garis pantai, menyediakan habitat bagi berbagai spesies, dan menyimpan karbon. Hutan mangrove memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar, juga penyelamat bagi berbagai masalah alam.

Hutan mangrove memiliki beberapa ciri khas yang membuatnya istimewa. Salah satunya adalah sistem perakaran khusus, seperti akar udara, yang membantu tumbuhan mangrove beradaptasi dengan kondisi tanah yang berlumpur dan hampir selalu tergenang air. Selain itu, hutan ini juga dikenal dengan keanekaragaman hayatinya yang tinggi, menjadi rumah bagi berbagai spesies tumbuhan dan hewan, termasuk ikan, burung, dan krustasea. Di Indonesia saja, terdapat sekitar 202 jenis tumbuhan mangrove yang menambah kekayaan biodiversitas negara ini.

Hutan mangrove berperan sebagai benteng alami terhadap badai dan banjir, serta membantu mengurangi erosi pantai. Kemampuan hutan ini dalam menyerap karbon dioksida juga sangat efisien, sehingga berkontribusi signifikan pada mitigasi perubahan iklim. Selain itu, hutan mangrove menyediakan habitat yang ideal bagi berbagai spesies, mendukung keanekaragaman hayati yang tinggi, dan memberikan manfaat ekonomi melalui pariwisata, penangkapan ikan, dan pemanfaatan kayu.

 

Pentingnya Pelestarian Hutan Mangrove

Pelestarian hutan mangrove menjadi sangat penting mengingat dalam dua dekade terakhir, lebih dari 60% hutan mangrove global telah hilang atau terdegradasi. Upaya konservasi diperlukan untuk menjaga ekosistem ini agar tetap berfungsi sebagai pelindung lingkungan dan sumber daya bagi masyarakat. Menjaga kelestarian hutan mangrove tidak hanya berarti melindungi alam, tetapi juga menjamin keberlanjutan manfaat ekonomis dan ekologi bagi generasi mendatang. Mengunjungi hutan mangrove melalui ekowisata adalah salah satu cara untuk menikmati keindahan alam sekaligus mendukung upaya pelestarian. 

 

Kawasan Ekowisata Mangrove Desa Petaling

Menurut KLHK (2023), Indonesia memiliki salah satu ekosistem mangrove terbesar di dunia, dengan luas sekitar 3.36 juta hektar. Ini menyumbang 20-25% dari total ekosistem mangrove global. Sebagai salah satu pusat keanekaragaman mangrove dunia, hutan mangrove tersebar di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Desa Petaling, Kecamatan Selat Nasik, Pulau Mendanau. Di Desa Petaling sendiri, terdapat hutan mangrove seluas 712 hektar. Mangrove yang ada di Desa Petaling ini diperkiraan sudah berumur sekitar 500-600 tahun. 

Kawasan mangrove ini selain menjadi wilayah konservasi alam, jugamerupakan pariwisata berkelanjutan yang dapat dinikmati oleh wisatawan. Kawasan ekowisata mangrove yang dijuluki dengan “Mangrove 1000 Oksigen” ini memiliki banyak habitan lain seperti ketam (kepiting) bakau, ikan beluko, dan timong, yang mana menjadikan ekowisata mangrove di Desa Petaling sangat unik. Wisatawan yang berkunjung telah dapat menikmati keanekaragaman hayati ekowisata mangrove Desa Petaling melalui paket-paket wisata yang telah disediakan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Petaling, seperti Wisata Susur Sungai, Wisata Mencari Kepiting, Mancing Beluko, Mencari Timong, dan masih banyak lagi.

 

Menyusuri Hutan Mangrove Berumur Ratusan Tahun

Terdapat dua cara yang dapat wisatawan lakukan untuk mengakses keindahan Ekowisata Mangrove Desa Petaling ini. Bagi penikmat jalan kaki, dapat menyusuri jalan setapak kayu dengan ditemani suasana teduh dari pohon mangrove di kanan kiri track yang tak begitu panjang tetapi cukup menjadi melepas penat dengan kembali ke alam. Namun, bagi wisatawan yang ingin mendapatkan pengalaman baru yang unik, Ekowisata Mangrove Desa Petaling juga menawarkan penyusuran sungai Mangrove dengan boat nelayan lokal. Dikendarai langsung oleh nelayan setempat, sehingga wisatawan dapat memanfaatkan waktu tempuh bolak-balik sekitar 30 menit ini untuk bertanya-tanya seputar Mangrove maupun budaya lokal setempat, karena tidak ada yang lebih menarik dari cerita langsung dari pengalaman warga lokal. Cara manapun yang wisatawan pilih, keduanya akan mengantarkan kalian menikmati mangrove berusia ratusan tahun ini.

 

Tak Perlu Bingung Mencari Akomodasi

Wisatawan juga dapat bermalam dengan mendirikan tenda camp di bungalow yang berada tepat di pinggir sungai hutan mangrove. Memang bukan wisata yang umum atau cocok untuk keluarga, tetapi sangat cocok bagi kalian yang senang dan ingin lebih dekat dengan alam karena akan terasa penuh tantangan dan sedikit menegangkan. Bagi wisatawan keluarga maupun korporat, Desa Petaling menyediakan mess desa maupun air bnb di rumah-rumah warga. Pilihan akomodasi yang paling disarankan untuk wisatawan adalah homestay air bnb di rumah-rumah warga karena mudah mulai dari pemesanan, hingga pelayanannya selama wisatawan berkunjung karena akan selalu ada warga lokal yang mendampingi dan menyediakan berbagai informasi yang dibutuhkan.


 

Referensi

KLHK. (2023, September 4). Menteri LHK: Presiden World Bank Kagumi Rehabilitasi Mangrove Indonesia. ppid.menlhk. Retrieved July 31, 2024, from https://ppid.menlhk.go.id/berita/siaran-pers/7358/menteri-lhk-presiden-world-bank-kagumi-rehabilitasi-mangrove-indonesia