Sejarah Desa

Sejarah Desa Petaling: Legenda, Keunikan, dan Harmoni

Desa Petaling, yang terletak di Pulau Mendanau, Kecamatan Selat Nasik, menyimpan sejarah yang kaya dan penuh mitos-mitos lokalnya. Keindahan alamnya yang mempesona serta misteri yang turun-temurun membuat desa ini menjadi destinasi yang patut dikunjungi. Nama desa ini diambil dari kayu petaling, yang dipercaya memiliki daya magis untuk menyembuhkan luka gigitan binatang beracun dan menjadi penangkal makhluk gaib.

Legenda Desa Petaling

Dahulu kala, hiduplah seorang nelayan yang sehari-harinya mencari nafkah dengan memancing di lautan luas. Suatu hari, saat sedang asyik mengayuh sampannya, nasib buruk menimpanya. Kakinya digigit oleh ular berbisa. Dalam kepanikan, sang nelayan segera mengayuh sampannya kembali ke daratan. Tanpa disengaja, air dari dayungnya mengenai kaki yang tergigit. Ajaibnya, luka gigitan ular itu mulai berangsur sembuh. Setelah ditelusuri, ternyata dayung yang digunakan oleh sang nelayan terbuat dari kayu petaling, sebuah kayu khas yang hanya bisa tumbuh di desa ini. Hingga sekarang, kayu petaling dikenal dengan kemampuannya yang luar biasa untuk menyembuhkan bisa binatang beracun seperti ular, kalajengking, dan lipan. 

Desa Petaling memiliki beberapa mitos yang menarik. Salah satu mitosnya adalah tidak adanya binatang buas di Pulau Mendanau, yang membuat penduduk setempat merasa aman untuk berjalan-jalan di sana. Meskipun Pulau Petaling berada di kawasan Sumatera yang identik dengan binatang buas, pulau ini tampaknya bebas dari ancaman tersebut. Hal ini juga berkaitan dengan adanya kayu petaling yang membuat binatang buas akan menjadi lemah tak berdaya jika kayu petaling didekatkan kepada mereka, terutama jika kayu ini dibawa keluar Pulau Mendanau. 

Mitos lainnya tentang kehadiran kayu petaling di desa ini adalah tentang ketidakmampuan binatang ternak bertahan hidup di Desa Petaling, Pulau Mendanau, Bangka Belitung. Sapi, kambing, dan kerbau tidak bisa bertahan lama di pulau ini, meskipun rumput dan makanan tersedia. Ada anggapan bahwa ada satu jenis kayu di pulau ini yang membuat binatang-binatang tersebut tidak bisa hidup. Namun, kancil tampaknya bisa hidup dengan baik di pulau ini. Dengan demikian, efek magis dari kayu petaling menjadi warisan kepercayaan turun temurun dan nama pohon petaling diabadikan sebagai nama desa.

 

Tentang Desa Petaling 

Desa Petaling merupakan salah satu dari tiga desa yang ada di Pulau Mendanau. Seperti yang telah diceritakan di atas, nama desa ini diambil dari kayu petaling yang terkenal dengan daya magisnya. Di desa ini, banyak tempat yang menggunakan nama "petaling", seperti Bukit Petaling, Aik Petaling, Sungai Petaling, Batang Petaling, Karang Petaling Darat, dan Karang Petaling Laut. Setiap tempat ini memiliki keindahan dan keunikan tersendiri yang layak untuk dieksplorasi.

Desa Petaling dipimpin oleh kepala desa yang dipilih langsung oleh masyarakat melalui proses pemilihan kepala desa. Kecamatan Selat Nasik memiliki 29 pulau, dengan sembilan pulau utama di wilayah kecamatan ini. Desa Petaling sendiri memiliki empat pulau besar yang terkenal: Pulau Nadu, Pulau Sepindang, Pulau Sebongkok, dan Pulau Sekutai. Namun, hanya Pulau Nadu yang berpenghuni, dengan penduduk yang tinggal dan bekerja di keramba jaring apung (KJA).

Pulau Gersik sendiri adalah pulau kecil dengan diameter sekitar 1200 meter. Pulau ini begitu kecil sehingga teriakan dari ujung barat bisa terdengar hingga ujung timur. Saat musim barat tiba dengan gelombang besar, Pulau Gersik menjadi rawan karena tidak ada daratan tinggi yang melindunginya.

 

Keindahan dan Tantangan Alam

Jalur laut di sekitar pulau-pulau ini sering dilalui kapal-kapal besar setiap menitnya, mirip dengan lalu lintas mobil di daratan. Pulau-pulau yang tidak berpenghuni di Desa Gersik berjumlah sekitar tujuh atau delapan pulau. Pulau-pulau berpenghuni di Desa Gersik termasuk Pulau Gersik sendiri, Pulau Kuil, Pulau Kalamlau, dan Pulau Tiang Penangar. Pulau Kimar, meskipun tak berpenghuni, memiliki penangkaran penyu hijau yang dikelola oleh orang Jepang dengan bantuan penduduk lokal sebagai penjaga harian.

Pulau-pulau ini menawarkan pemandangan alam yang spektakuler, dengan pantai berpasir putih dan air laut yang jernih. Terumbu karang yang indah menjadi daya tarik bagi para penyelam dan pecinta snorkeling. Namun, keindahan ini juga diiringi dengan tantangan alam yang harus dihadapi oleh penduduk setempat, seperti badai dan gelombang besar yang kerap melanda.

 

Keanekaragaman Budaya

Masyarakat Desa Petaling sangat beragam, terdiri dari berbagai etnis seperti Jawa, Bugis, dan Melayu. Semua suku hidup berdampingan dengan harmonis, menjadikan desa ini sebagai contoh kerukunan antar etnis. Warga lokal asli Melayu cenderung tinggal dengan menyebar, sedangkan Masyarakat Bugis berkelompok di daerah Suak Kemang, sedangkan warga asal Jawa tinggal di daerah yang dikenal dengan sebutan “trans” yaitu singkatan dari transmigran. Keragaman budaya ini tercermin dalam berbagai tradisi dan adat istiadat, terutama bahasa yang dijaga dengan baik oleh masyarakat. Upacara adat, festival, dan perayaan keagamaan menjadi momen penting yang mempererat hubungan antarwarga. 

Pulau-pulau di Kecamatan Selat Nasik, terutama Desa Petaling, menawarkan keindahan alam yang luar biasa dan keunikan budaya yang kaya. Mitos dan kenyataan hidup berdampingan di sini, menciptakan cerita-cerita menarik yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Desa Petaling bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga sebuah warisan budaya dan sejarah yang berharga. Keindahan alam, kekayaan budaya, serta legenda yang melingkupinya menjadikan desa ini sebagai destinasi wisata yang menarik. Pengunjung yang datang tidak hanya akan menikmati keindahan alamnya, tetapi juga akan merasakan kedamaian dan kehangatan dari masyarakat yang ramah dan bersahabat. Desa Petaling adalah tempat di mana mitos dan kenyataan berpadu, menciptakan pengalaman yang tak terlupakan bagi siapa saja yang mengunjunginya.